Menurut UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) literasi adalah seperangkat keterampilan nyata, khususnya keterampilan kognitif membaca dan menulis yang terlepas dari konteks di mana keterampilan itu diperoleh dan dari siapa memperolehnya. UNESCO juga menjelaskan bahwa kemampuan literasi merupakan hak setiap orang dan merupakan dasar untuk belajar sepanjang hayat. Kemampuan literasi dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, dan masyarakat. Sayangnya, budaya literasi di Indonesia masih sangat rendah. Masyarakat Indonesia seakan-akan tak peduli dan enggan menerapkan budaya literasi di tengah derasnya arus globalisasi.
Berbagai laporan dari lembaga kompeten, baik nasional maupun internasional menunjukkan bahwa indeks minat baca dan tingkat literasi masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan. UNESCO pernah merilis data yang menunjukkan bahwa indeks minat baca di Indonesia hanya 0,001. Itu artinya, dari seribu orang hanya ada satu yang memiliki minat baca. OECD (Organization for Economic, Cooperation, and Development) juga pernah melansir hasil survei yang menunjukkan kemampuan membaca, berhitung, dan pengetahuan sains anak-anak Indonesia masih di bawah negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Menurut studi Most Littered Nations In the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016, Indonesia hanya menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara mengenai minat baca.
Melihat fakta-fakta di atas, kita bisa mengetahui bahwa Indonesia saat ini mengalami krisis literasi. Hal itu disebabkan karena masyarakat Indonesia terbiasa mendengar dan berbicara daripada membaca. Lebih dari itu, beberapa orang bahkan masih belum mengerti makna literasi dan kurang sadar akan manfaatnya. Selain itu, sarana membaca yang minim ternyata juga membuat kebiasaan membaca ini sulit dilakukan.
Membudayakan literasi di Indonesia tidak hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi masyarakat juga harus berperan serta di dalamnya. Gerakan literasi sekolah yang dicanangkan Kemendikbud harus mendapatkan apresiasi dan dukungan dari kita semua. Program ini akan bertambah efektif apabila diteruskan dan dikembangkan masing-masing keluarga di rumah. Selain itu, sekolah dapat berupaya menambah koleksi buku di perpustakaan atau membuat pojok baca sebagai sarana membangun budaya literasi bagi para remaja di Indonesia.
Struktur Teks
1. Tesis -> Paragraf 1
2. Argumentasi -> Paragraf 2, 3
3. Penegasan ulang -> Paragraf 4
0 Comments