Isrul adalah seorang anak yang lahir dan tinggal di pelosok desa terpencil jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Tradisi dan adat-istiadatnya masih sangat kental. Untuk urusan pendidikan pun belum diutamakan, bahkan hampir semua orang tua di desa tersebut tidak pernah merasakan duduk di bangku sekolah, termasuk Ayah dan Ibu Isrul. Kini Isrul sudah duduk di bangku kelas 8 di salah satu sekolah favorit di kotanya. Sebuah impian yang selalu terhalang karena tradisi di desanya dan pola pikir ayahnya yang masih belum mementingkan pendidikan.
Peringatan Hardiknas merupakan awal penyebab terbukanya pintu hati Ayah Isrul untuk merespon keinginannya bersekolah di kota. Saat itu dilaksanakan pemilihan siswa berprestasi tingkat kecamatan. Semua sekolah diisyaratkan mengutus perwakilan untuk berlomba. Isrul diutus untuk mewakili sekolahnya. Seleksi siswa berprestasi dimulai dari tes pengetahuan, meliputi Matematika, Bahasa Indonesia, IPA, IPS, dan tes Hasta Karya. Menjelang lomba, Bu Sahida, guru kelas Isrul, selalu memberi bimbingan, bahkan tak jarang Isrul diminta datang ke sekolah untuk bimbingan sore hari. Namun, karena keterbatasan izin dari ayahnya dan setiap sepulang sekolah ia diharuskan membantu ayahnya bekerja di sawah, semua bahan lomba itu diberikan Bu Sahida untuk dipelajari di rumah. Semua bahan tersebut dipelajari Isrul sembari membantu ayahnya bekerja di sawah. Isrul duduk di dangau mengusir sekawanan burung pipit yang hinggap di batang padi sembari mempelajari bahan lomba. Isrul juga berpikir keras tentang hasta karya apa yang akan ia presentasikan saat lomba nanti. Akhirnya, Isrul memutuskan menebang batang tellang lalu ia keringkan di dekat dangau untuk selanjutnya dibuat sangkar burung.
Saat tiba waktunya berlomba, Isrul mengikuti ujian tertulis dengan baik. Ia berada di urutan ke-2 dari 10 peserta terbaik. Di tahap seleksi selanjutnya, hasta karya Isrul mampu membawanya meraih peringkat pertama dan akan mewakili kecamatan ke tingkat kabupaten. Ayah dan Ibu Isrul pun kini bangga padanya. Ayah Isrul yang tadinya keras dan tak mementingkan pendidikan kini mulai menyadari keinginan anaknya bersekolah di kota. Sejak itulah Isrul semakin giat belajar untuk mencapai mimpinya. Meski demikian, Isrul tetap membantu ayahnya bekerja di sawah. Di atas dangau Isrul mengasah pengetahuannya dengan membaca. Di kabupaten, Isrul pun meraih peringkat ketiga dan kembali mendapat piala yang lagi-lagi dibawanya ke dangau untuk ditunjukkan kepada ayahnya. Ayah Isrul pun tambah yakin akan kemampuan Isrul. Sampai akhirnya, Isrul tamat SD dengan predikat baik dan kini menjadi siswa di sekolah favorit. Bagi Isrul, menjadi siswa di sekolah favorit adalah suatu kebangaan tersendiri. Kebanggaan itu muncul dari rasa kepuasan atas hasil proses panjang yang di dalamnya melibatkan kerja keras, kesabaran, kedisiplinan, dan mental yang pantang menyerah.
0 Comments